Dilema Ibu bekerja adalah ketika Ia harus meninggalkan keluarganya untuk urusan kerja ke luar kota. Sama dengan Ibu-Ibu bekerja yang lain ada rasa khawatir, dan kepikiran banget pas harus ke Bali selama 2 hari. Ya elah 2 hari ini, sebentar memang tapi dilema nya sudah dirasain berminggu-minggu sebelumnya :).
Jadi kantor ada acara training ke Bali brangkat jumat 22 november langsung dari kantor, jadi yang biasanya Edo ngliat Ibunya pulang bareng Bapaknya, kali ini ibunya nggak ada. "Ibu mana Bapak?" Hafid: "Ïbu kerja Do, nanti hari minggu pulang. Edo sama Bapak ya"
Sebenarnya pas di Bali berusaha dibikin enjoy, dan mikir positif, Edo nggak bakal kenapa2, makan doyan, tapi kok ya dapet laporan dari mbahnya Edo agak rewel makannya. "jangan dipikirin anakmu, biar nggak rewel". Aku telp dari Edo nya bilang "mau oleh-oleh baju sama Mobil-mobilan"
Well he is a toddler now not baby, he knows what his mother doing. so proud of you Son. Even when I am not around He always on my mind. that was the story of me 1st time leaving Edo, the 1st time he is not sleeping with me. exactly when he is 34 months.
Tampilkan postingan dengan label career. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label career. Tampilkan semua postingan
Senin, 16 Desember 2013
Kamis, 26 Juli 2012
Pulang malam
Selasa 2 minggu lalu (busyet telat ya postingnya),
Bos besar datang dan ngajakin meeting setelah bursa tutup. Dalam hati pengen
banget ikut meeting, tapi lebih pengeeeennnnn banget cepetpulang ke rumah
ketemu Edo. Sejak jadi Ibu sering banget ngerasa kayak gini. Kalo bisa nih
ya,,,aku bagi badan ini jadi dua, satu untuk stay di rumah, satu untuk di
kantor. Macam film surrogate gitu dech, kayak punya cloning. Kapan ya era itu
datang, dimana kita bisa beli robot kloningan kita.
Trus telp
Hafid, bilang kalo ada meeting sama bos besar, akhirnya Hafid pulang duluan.
Motornya aku yang bawa. Nah trus meeting sampai jam 8 malam di kantor aja,
lanjut makan di ayam president. Ya sud lah jam segini Edo pasti sudah tidur.
Akhirnya sampe rumah ditempuh dalam waktu 20 menit, Surabaya kalo malam kan
lancar jaya. Apalagi diatas jam 8 malam. Nyampe jam 9 malam. Trus gendong Edo
yang lagi tidur di rumah Mbahnya.
Sejak pindah
rivera, ritual ketiduran setelah menidurkan Edo nggak pernah lagi kejadian.
Karena biasanya, langsung sibuk masak malam-malam. Dan kalo sudah asyik gitu
kadang nggak inget waktu. Setelah nyuci, maksa si elektrolux kerja malam he he.
Lagian bisanya jam segitu.
Pas liat Edo
bobok, ngerasa gimana gitu, hmm seperti ada yang dilewatkan dalam satu babak
perkembangan Edo. Anyway sama sekali nggak menyesal memilih untuk menjadi Ibu
yang juga bekerja. Kan demi anak juga. Dan pulang malam gini nggak sering
banget. Belum tentu sebulan sekali. Selalu bilang dalam hati “tunggu Ibu ya
Edo”
Rabu, 11 April 2012
new office new challenge
beberapa hari yang lalu Bos aku, "the My Word is My Bond" menekankan bahwa perpindahan kita ke tempat kerja yang baru ini jangan disesali, diratapi. aku jadi mikir ngapain ya Bos ngomong kayak gini. pertama mungkin dia ngeliat ada yang merasa menyesal, mengasihi diri sendiri, karena sejak satu bulan lebih kantor beroperasi transaksi nasabah masih kecil. kedua, perusahaan kita baru belum dikenal orang.
aku pikir dulu pas kita pindahan ke kantor baru ini, yang mana swasta punya, jadi bukan BUMN kayak dulu (ya iyalah kalo swasta bukan bumn, piye to), berarti masalah manajerial, managemen kan jauh lebih profesional dari yang lama. menurut aku cara pimpinan dalam memanage bagaimana visi dan misi sebuah organisasi dijalankan secara konsisten itulah yang baik. meskipun waktu itu aku sama sekali nggak kepikiran apakah nasabah mau apa nggak untuk ikut pindah ke kantor baru ini.
aku pikir dulu pas kita pindahan ke kantor baru ini, yang mana swasta punya, jadi bukan BUMN kayak dulu (ya iyalah kalo swasta bukan bumn, piye to), berarti masalah manajerial, managemen kan jauh lebih profesional dari yang lama. menurut aku cara pimpinan dalam memanage bagaimana visi dan misi sebuah organisasi dijalankan secara konsisten itulah yang baik. meskipun waktu itu aku sama sekali nggak kepikiran apakah nasabah mau apa nggak untuk ikut pindah ke kantor baru ini.
Langganan:
Postingan (Atom)